Ketika Whitney Wolfe Herd mendirikan aplikasi kencan Bumble di usia 20-an, ia tidak hanya ingin membuat aplikasi baru. Ia ingin mengubah budaya kencan yang sering kali tidak setara dengan memberikan kendali penuh kepada perempuan untuk memulai percakapan. Dalam perkembangannya, Wolfe Herd tidak hanya membawa Bumble menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar, tetapi juga membangun budaya kerja yang berpusat pada tujuan (purpose-driven), inklusivitas, dan kesejahteraan karyawan.
Cara Wolfe Herd membangun Bumble menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional yaitu gaya memimpin yang fokus pada menginspirasi, memotivasi, dan membawa perubahan positif bagi timnya bukanlah hal baru. Namun, cara Gen Z dan Milenial mempraktikkannya membawa warna yang berbeda. Bagi mereka, memimpin bukan sekadar memberikan instruksi atau mengawasi pekerjaan, melainkan bagaimana menciptakan dampak yang bermakna dan memberdayakan orang lain untuk tumbuh.
Hal tersebut penting karena gaya kepemimpinan kaku dan bertingkat tidak lagi efektif di era kerja saat ini. Gen Z dan Milenial yang kini mulai mengisi posisi manajerial membutuhkan pendekatan yang lebih humanis, kolaboratif, dan adaptif. Kepemimpinan transformasional tidak muncul secara otomatis dari gelar di kartu nama, melainkan dilatih melalui cara kita berinteraksi, mendengarkan, dan merespons kebutuhan tim di tengah perubahan yang cepat.
World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 menempatkan kepemimpinan dan pengaruh sosial, empati, serta kemampuan mendengarkan sebagai beberapa kompetensi inti yang paling krusial. Hal ini menunjukkan bahwa di masa depan, pemimpin yang paling dibutuhkan bukanlah mereka yang paling otoriter, melainkan mereka yang mampu menginspirasi, memahami tim, dan membawa perubahan positif secara kolaboratif.
Lalu, bagaimana kepemimpinan transformasional dapat dilatih dan dipraktekkan oleh Gen Z dalam kehidupan kerja sehari-hari? Berikut yang Next Leader Consulting rekomendasikan:
1. Memimpin dengan Tujuan yang Jelas (Purpose-Driven)
Salah satu ciri utama kepemimpinan transformasional ala Gen Z adalah memimpin dengan tujuan yang bermakna. Gen Z cenderung tidak hanya ingin bekerja untuk mendapatkan gaji; mereka ingin pekerjaan mereka memberikan dampak positif bagi masyarakat atau lingkungan.
Survei Deloitte Gen Z and Millennial Survey 2024 menunjukkan bahwa profesional muda yang merasa pekerjaannya memiliki tujuan yang sejalan dengan nilai-nilai pribadi mereka, memiliki tingkat keterikatan (engagement) dan kesejahteraan (well-being) yang jauh lebih tinggi. Pemimpin transformasional mampu menerjemahkan visi besar perusahaan menjadi tujuan yang relevan dan memotivasi bagi anggota timnya.
Melatih kepemimpinan berbasis tujuan berarti tidak hanya fokus pada “apa” yang harus dikerjakan, tetapi “mengapa” hal itu penting. Seseorang dapat mulai dengan memahami bagaimana peran sehari-harinya berkontribusi pada tujuan yang lebih besar, dan secara rutin mengingatkan tim tentang dampak dari pekerjaan mereka.
Penerapan oleh Leader: Dalam setiap kick-off proyek atau rapat rutin, luangkan waktu lima menit untuk menjelaskan “mengapa” proyek ini penting bagi perusahaan, klien, atau masyarakat. Hubungkan tugas-tugas teknis dengan dampak nyata yang akan dihasilkan.
2. Membangun Empati dan Dukungan Mental
Pemimpin transformasional tidak hanya peduli pada hasil kerja, tetapi juga pada manusia di balik hasil tersebut. Gen Z sangat menghargai transparansi dan kepedulian terhadap kesehatan mental, menjadikannya standar baru dalam kepemimpinan.
Gallup dalam State of the Global Workplace 2024 menemukan bahwa manajer yang secara aktif menunjukkan empati dan mendukung kesejahteraan (well-being) timnya mampu secara signifikan menurunkan tingkat kelelahan mental (burnout) dan meningkatkan produktivitas. Empati di sini bukan berarti menyetujui semua permintaan tim, melainkan kemampuan untuk memahami perasaan, beban kerja, dan perspektif mereka.
Membangun empati berarti hadir secara utuh saat berinteraksi dengan tim. Pemimpin perlu peka terhadap perubahan perilaku anggota tim, tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan, dan menciptakan ruang yang aman bagi tim untuk berbicara jujur tentang tantangan yang mereka hadapi tanpa takut dihakimi.
Penerapan oleh Leader: Jadikan pemeriksaan kondisi mental dan beban kerja sebagai bagian dari rapat satu-satu (one-on-one). Tanyakan, “Apa yang sedang membebani pikiranmu minggu ini?” atau “Bagaimana saya bisa mendukungmu agar tidak merasa kewalahan?” sebelum langsung membahas progres tugas.
3. Menghapus Sekat Hierarki, Mengedepankan Kolaborasi
Gen Z tumbuh di era digital yang mendobrak batas-batas tradisional, sehingga mereka cenderung tidak nyaman dengan struktur jabatan yang kaku dan bertingkat (hierarki). Kepemimpinan transformasional ala Gen Z lebih mengedepankan kolaborasi setara, di mana ide terbaiklah yang menang, bukan ide dari orang yang jabatannya paling tinggi.
Artikel Harvard Business Review pada 2023 mengenai kepemimpinan di era modern menunjukkan bahwa tim yang bekerja dalam struktur kolaboratif dan jaringan (networked teams) terbukti lebih inovatif dan cepat dalam memecahkan masalah dibandingkan tim yang bekerja dengan komando terpusat. Pemimpin transformasional bertindak lebih sebagai fasilitator atau pelatih (coach) daripada bos yang memerintah.
Menghapus sekat hierarki berarti bersedia mendengarkan ide dari anggota tim yang paling junior sekalipun. Pemimpin perlu rendah hati untuk mengakui bahwa mereka tidak memiliki semua jawaban, dan berani memberikan ruang bagi tim untuk mengambil kepemilikan (ownership) atas ide-ide mereka.
Penerapan oleh Leader: Saat menghadapi masalah yang kompleks, jangan langsung memberikan solusi. Gunakan pendekatan brainstorming di mana setiap anggota tim, terlepas dari tingkat senioritasnya, didorong untuk memberikan ide. Jadilah yang terakhir berbicara agar tidak mempengaruhi pendapat orang lain.
4. Berani Menantang Status Quo untuk Berinovasi
Status quo adalah keadaan atau cara kerja yang sudah ada dan tidak berubah. Pemimpin transformasional tidak puas dengan “cara kita selalu melakukan sesuatu”. Mereka secara aktif mencari cara yang lebih baik, lebih efisien, dan lebih inovatif, yang merupakan ciri khas Gen Z yang sangat adaptif terhadap teknologi.
PwC dalam Workforce Pulse Survey 2024 menyoroti bahwa Gen Z dan Milenial adalah pendorong utama adopsi teknologi dan inovasi di tempat kerja. Mereka yang berani mengusulkan perubahan dan menantang cara kerja lama cenderung lebih cepat berkembang dan membawa timnya mencapai hasil yang luar biasa.
Melatih keberanian berinovasi berarti tidak takut untuk bertanya, “Mengapa kita melakukan ini dengan cara yang lama?” Pemimpin perlu menciptakan budaya dimana kegagalan dalam bereksperimen dihargai sebagai proses belajar, bukan sebagai alasan untuk memberikan hukuman.
Penerapan oleh Leader: Tetapkan satu sesi rutin setiap bulan yang disebut “Sesi Inovasi” atau “Ide Gila”. Dalam sesi ini, minta tim untuk mengidentifikasi satu proses kerja yang terasa lambat atau membingungkan, dan berikan mereka waktu serta sumber daya untuk merancang solusi yang lebih baik.
Kepemimpinan Transformasional Dimulai dari Diri Sendiri
Kepemimpinan transformasional bukan tentang mengubah orang lain secara paksa, melainkan tentang menginspirasi mereka melalui contoh nyata. Gen Z tidak akan mengikuti pemimpin yang hanya bisa menyuruh; mereka akan mengikuti pemimpin yang berani menunjukkan kerentanan (vulnerability), terus belajar, dan peduli secara tulus.
Pada akhirnya, pemimpin transformasional yang hebat adalah mereka yang menyadari bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang dicapai, tetapi dari seberapa banyak pemimpin baru yang berhasil mereka ciptakan.
Next Leader Consulting membantu organisasi mengembangkan kemampuan profesional dan pemimpin melalui program yang dirancang untuk menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang. Melalui pendekatan pengembangan kepemimpinan, performance coaching, HR assessment, dan solusi pembelajaran, kami membantu individu dan organisasi membangun kemampuan memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensi tim secara lebih efektif.
Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Training Kepemimpinan, Coaching Kinerja, HR Assessment dan Gamification e-Learning. Silahkan dapat kontak team kami melalui Live Chat untuk merekomendasikan program yang tepat sesuai kebutuhan di organisasi Anda.
Baca juga artikel terkait lainnya :

