Contoh Jiwa Kepemimpinan yang Baik

Share it

Ketika Melanie Perkins mendirikan Canva dari sebuah ruang kerja kecil di Melbourne, ia tidak hanya ingin membangun aplikasi desain. Ia ingin menciptakan lingkungan kerja di mana setiap orang merasa dihargai dan diberdayakan. Dalam perkembangannya, Perkins tidak hanya membawa Canva menjadi salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di dunia, tetapi ia juga secara mengejutkan memutuskan untuk mundur dari posisi CEO pada awal 2024 untuk memberikan kesempatan bagi pemimpin lain tumbuh, sembari ia fokus pada filantropi.

Cara Perkins memimpin menunjukkan bahwa jiwa kepemimpinan yang baik tidak diukur dari seberapa lama seseorang bertahan di kursi kekuasaan, melainkan dari seberapa besar dampak positif yang ia berikan pada orang lain. Kepemimpinan yang sejati bukan tentang menjadi orang yang paling berkuasa atau paling pintar di dalam ruangan, melainkan tentang integritas, empati, dan kemampuan untuk mengangkat orang lain.

Hal tersebut sangat penting karena profesional saat ini, khususnya Gen Z dan Milenial, memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap atasan mereka. Mereka tidak lagi menghormati jabatan hanya karena jabatan; mereka menghormati karakter. Jiwa kepemimpinan yang baik tidak muncul secara otomatis saat seseorang dipromosikan. Ia dilatih melalui konsistensi, keberanian untuk mengakui kesalahan, dan kesediaan untuk mendengarkan.

Edelman Trust Barometer 2024 menunjukkan bahwa kepercayaan karyawan terhadap pemimpin sangat bergantung pada persepsi integritas dan transparansi. Laporan tersebut menemukan bahwa karyawan yang percaya pada karakter pemimpin mereka memiliki tingkat keterikatan dan loyalitas yang jauh lebih tinggi. Ini membuktikan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup; karakter dan jiwa kepemimpinan adalah fondasi utama dari tim yang solid.

Lalu, seperti apa contoh nyata jiwa kepemimpinan yang baik yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan kerja sehari-hari? Berikut yang Next Leader Consulting rekomendasikan:

1. Menempatkan Tim di Atas Ego Pribadi

Jiwa kepemimpinan yang baik terlihat jelas ketika seorang pemimpin bersedia berbagi pujian saat berhasil, dan mengambil tanggung jawab saat gagal. Pemimpin yang baik tidak menggunakan posisinya untuk mencari panggung, melainkan menggunakan posisinya untuk menyoroti pencapaian timnya.

Artikel Harvard Business Review pada 2023 mengenai humble leadership (kepemimpinan yang rendah hati) menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu mengakui keterbatasan diri dan menghargai kontribusi orang lain terbukti menciptakan psychological safety (rasa aman secara psikologis). Ketika tim merasa aman dan tidak terancam oleh ego atasan, mereka akan lebih berani berinovasi dan menyampaikan ide-ide kritis.

Dalam praktiknya, ini berarti pemimpin tidak perlu selalu terlihat sempurna. Mengakui ketika Anda tidak tahu jawabannya atau ketika Anda membuat kesalahan justru akan meningkatkan rasa hormat tim, bukan menurunkannya.

Penerapan oleh Leader: Saat tim mencapai target atau menyelesaikan proyek besar, pastikan Anda menyebut nama anggota tim yang berkontribusi secara spesifik di hadapan manajemen atas. Sebaliknya, jika ada kesalahan fatal dalam proyek, gunakan kata “kami” saat melapor ke atas untuk mengambil tanggung jawab, dan gunakan pendekatan personal untuk mengevaluasi kesalahan tersebut bersama anggota tim yang bersangkutan.

2. Konsisten Antara Ucapan dan Tindakan (Walk the Talk)

Walk the talk adalah istilah yang berarti menyelaraskan apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Gen Z dan Milenial sangat peka terhadap kemunafikan. Jiwa kepemimpinan yang baik menuntut adanya integritas, di mana nilai-nilai yang didengungkan oleh pemimpin benar-benar tercermin dalam perilakunya sehari-hari.

Gallup dalam State of the Global Workplace 2024 menyoroti bahwa ketidakjelasan dan inkonsistensi dari manajer adalah salah satu pemicu utama kecemasan dan burnout (kelelahan mental) pada karyawan. Ketika pemimpin menjanjikan dukungan tetapi tidak pernah melaksanakannya, atau menuntut kerja keras namun tidak memberikan apresiasi yang adil, kepercayaan tim akan hancur dengan cepat.

Konsistensi membangun kepercayaan. Pemimpin yang baik tidak hanya membuat aturan untuk bawahan, tetapi juga tunduk pada aturan dan standar yang sama. Mereka mencontohkan budaya kerja yang sehat, seperti menghormati waktu istirahat dan tidak mengirim pesan pekerjaan di luar jam kerja jika tidak dalam keadaan darurat.

Penerapan oleh Leader: Jika Anda mengkampanyekan pentingnya keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) kepada tim, pastikan Anda juga mempraktikkannya. Jangan memuji karyawan yang selalu bekerja lembur, karena secara tidak langsung Anda mengirimkan pesan bahwa kerja berlebihan adalah standar yang diharapkan.

3. Berani Mengambil Keputusan Sulit dengan Empati

Memiliki jiwa kepemimpinan yang baik bukan berarti menjadi people-pleaser (orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain dan menghindari konflik). Pemimpin yang baik tetap harus membuat keputusan yang tidak populer, seperti memangkas anggaran, mengubah strategi secara mendadak, atau melakukan penyesuaian tim. Perbedaannya terletak pada cara keputusan tersebut disampaikan.

Riset dari McKinsey & Company (2024) mengenai kesehatan organisasi (organizational health) menemukan bahwa tim yang dipimpin oleh manajer yang komunikatif dan empatik jauh lebih tangguh dalam menghadapi masa-masa sulit atau perubahan besar. Empati dalam pengambilan keputusan berarti mempertimbangkan dampak manusiawi dari sebuah kebijakan dan menyampaikannya dengan transparansi, bukan dengan dingin atau menggurui.

Pemimpin yang baik tidak akan menyembunyikan kebenaran atau memberikan janji manis yang tidak realistis. Mereka menyampaikan fakta secara jujur, menjelaskan alasan di balik keputusan yang sulit, dan memberikan ruang bagi tim untuk memproses serta bertanya.

Penerapan oleh Leader: Ketika harus menyampaikan berita buruk atau perubahan yang tidak disukai tim, lakukan secara langsung (jangan hanya melalui email atau pesan singkat). Jelaskan konteks dan alasan bisnis di balik keputusan tersebut, akui bahwa situasi ini memang berat, dan tanyakan bagaimana Anda bisa mendukung mereka melewati masa transisi ini.

4. Menjadi Multiplier yang Merayakan Kesuksesan Tim

Multiply berarti mengalikan. Dalam kepemimpinan, multiplier adalah pemimpin yang mampu melipatgandakan potensi, kecerdasan, dan kapabilitas anggota timnya. Jiwa kepemimpinan yang baik tidak merasa terancam oleh bawahan yang lebih pintar atau lebih berbakat. Sebaliknya, mereka aktif mencari cara untuk mengembangkan orang-orang di sekitarnya.

Deloitte Gen Z and Millennial Survey (2024) mengungkapkan bahwa ketersediaan mentor dan rasa dihargai adalah dua faktor utama yang membuat profesional muda bertahan di sebuah perusahaan. Pemimpin yang bertindak sebagai multiplier secara sengaja memberikan kesempatan, delegasi wewenang, dan sponsorship (dukungan aktif untuk promosi karier) kepada anggota timnya.

Menjadi multiplier berarti Anda tidak micromanage (mengatur segala hal secara detail dan mengekang). Anda memberikan arahan yang jelas, menyediakan sumber daya yang dibutuhkan, dan kemudian memberi ruang bagi tim untuk mengeksekusi dan bersinar.

Penerapan oleh Leader: Identifikasi kekuatan unik dari setiap anggota tim Anda. Berikan mereka proyek yang menantang sesuai dengan kekuatan tersebut, bahkan jika itu berarti Anda harus melepaskan sedikit kendali. Saat mereka berhasil, pastikan Anda menjadi orang pertama yang merayakannya dan mendorong mereka untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.

Jiwa Kepemimpinan Terbentuk dari Pilihan Kecil Setiap Hari

Jiwa kepemimpinan yang baik bukanlah sifat magis yang dimiliki segelintir orang terpilih. Ia adalah hasil dari ratusan pilihan kecil yang dibuat setiap hari: memilih untuk mendengarkan alih-alih memotong pembicaraan, memilih untuk jujur alih-alih mencari jalan pintas, dan memilih untuk mendukung tim alih-alih menjatuhkan mereka.

Pada akhirnya, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah laporan keuangan yang ia hasilkan, melainkan karakter dan jiwa kepemimpinan yang ia tularkan kepada orang-orang yang ia pimpin.

Next Leader Consulting membantu organisasi mengembangkan kemampuan profesional dan pemimpin melalui program yang dirancang untuk menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang. Melalui pendekatan pengembangan kepemimpinan, performance coaching, HR assessment, dan solusi pembelajaran, kami membantu individu dan organisasi membangun kemampuan memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensi tim secara lebih efektif.

Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Pelatihan Kepemimpinan, Performance Coaching, HR Assessment, dan Gamification E-Learning. Silakan hubungi tim kami melalui Live Chat untuk mendapatkan rekomendasi program yang sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda.

Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Training Kepemimpinan, Coaching Kinerja, HR Assessment dan Gamification e-Learning. Silahkan dapat kontak team kami melalui Live Chat untuk merekomendasikan program yang tepat sesuai kebutuhan di organisasi Anda.

WeCreativez WhatsApp Support
Team Support Next Leader siap membantu menjawab pertanyaan Anda
Silahkan Tulis Pertanyaan Anda..