Dewasa ini Milenial atau yang kerap disebut Gen Y telah mendominasi angkatan kerja di berbagai organisasi. Sejatinya walau generasi kelahiran 1981 – 1996 ini menduduki peringkat ke-2 sebagai generasi terbanyak di negeri kita ini setelah Gen Z, namun di dunia kerja Milenial lah yang mendominasi. Meskipun para Zoomer, demikian panggilan akrab Gen Z sudah mulai memasuki dunia kerja, namun sebagian besar Zoomer saat ini masih berada di jenjang kuliah dan bangku sekolah. Sementara pendahulu mereka yaitu Gen X (kelahiran 1965 -1980) tergolong masih cukup banyak dan menduduki posisi manajerial hingga manajemen puncak. Baby Boomers (kelahiran 1946-1964) yang kini sudah banyak memasuki usia pensiun, namun masih ada di beberapa organisasi yang mempekerjakan mereka terutama sekali dalam jajaran C level ataupun karyawan pensiun yang dikontrak untuk kembali bekerja karena keahlian yang dimilikinya. 

Mayoritas saat ini dalam satu tim kerja bisa jadi terdiri dari 2-3 generasi, yaitu Gen X, Milenial dan Gen Z, walu tidak menutup kemungkinan masih ada Baby Boomer. Dan beragamnya generasi dalam 1 tim kerja ini tentunya menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jika tim yang persis satu level di bawah Anda berisikan generasi yang bervariasi. Nah bagaimana cara pemimpinnya? Silahkan simak tips nya berikut ini:

1.Pahami Ciri Khas dan Karakteristik dari Setiap Generasi

Setiap generasi punya keunikan, kelebihan dan karakteristik khas yang menonjol dan bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan ‘gesekan generasi’ yang dapat berujung pada penurunan kinerja tim. Untuk itu, seorang pemimpin sangat perlu memahaminya, untuk kemudian memberikan perlakuan yang tepat.

Baby Boomers memiliki ciri merupakan tipe pekerja yang loyal dan mencari stabilitas. Mereka menyukai pendekatan birokratis dan akan senang apabila mendapat apresiasi secara terbuka oleh pimpinannya. Baby boomers cenderung menilai efektifitas kerja seseorang berdasar lamanya bekerja dan senioritas.

Gen X dikenal dengan pribadinya yang suka mandiri dalam bekerja dan adaptif. Mereka ingin dihargai bukan karena lamanya bekerja tetapi karena produktifitasnya. Mereka menyukai pendekatan yang terstruktur dan instruksi yang jelas dalam bekerja. Hal penting yang menjadi motivasi kerjanya ialah jika ia dapat work-life balance alias bekerja namun juga tetap punya waktu yang cukup bagi waktu pribadi dan keluarga. 

Sementara Milenial, mereka berani berpendapat, kreatif dan menyukai tantangan baru. Nilai utama mereka dalam bekerja ialah dapat mengembangkan dirinya dan dapat  membawa kebermanfaatan bagi sesama. Karenanya jangan heran apabila Milenial yang berpindah kerja dari perusahaan besar atau berfasilitas menjanjikan ke perusahaan kecil karena adanya sesuatu ‘nilai’ pribadi yang mereka kejar.

Gen Z yang kini mulai memasuki dunia kerja, dikenal sebagai generasi DIY (Do It Yourself) alias lebih suka melakukan segala sesuatu dengan ‘style’ mereka sendiri. Generasi yang kerap disebut i-Generation atau generasi internet dan Zoomer ini ingin melakukan segala sesuatu dengan cara mereka sendiri. Mereka berprinsip jika bisa melakukan dengan cepat dan efisien, mengapa harus mengikuti proses yang panjang dan lama.

 

2. Berikan Supervisi yang Memotivasi Sesuai Ciri Khas Setiap Generasi.

Setelah memahami karakteristik setiap generasi, selanjutnya pemimpin perlu melakukan pendekatan yang tepat dalam mensupervisi mereka. Kita tidak dapat melakukan pendekatan yang sama untuk diterapkan pada setiap orang dari generasi yang berbeda untuk dapat mensupervisi yang memotivasi mereka. Ibaratnya supervisi adalah starting point yang  menetukan langkah berikutnya, karenanya ini merupakan hal yang maha penting yang perlu dilakukan dengan tepat oleh setiap pemimpin. Adanya kesalahan dari supervisi awal dapat berakibat pelaksanaan yang tidak maksimal bahkan berimbas pada kesalahan hingga kegagalan dalam pelaksanaannya.

Jika Anda masih memiliki tim dari generasi Baby Boomers, maka Anda perlu memberikan apresiasi atas pengalaman kerjanya selama ini. Berikan juga pengakuan padanya di depan rekan-rekan kerja yang lain sehingga ia merasa pengalaman kerjanya selama ini dihargai. Selanjutnya barulah Anda berikan supervisi dengan jelas dan rinci sesuai aturan yang ada. Ketika Anda memberikan penugasan yang baru, Anda juga perlu jelaskan per langkah dengan jelas karena Baby boomers yang birokratis akan berhati-hati dalam melaksanakan setiap tugasnya. Karenanya pastikan mereka merasa memahaminya dan bersabarlah jika suatu tugas baru yang Anda berikan, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikannya.

Bagi tim Anda yang dari Gen X, maka Anda perlu menjelaskan tugas secara sistematis dan jalur otoritas yang jelas. Gen X yang mandiri dan adaptif perlu mendapatkan supervisi yang terstruktur untuk membuatnya yakin diri dan dapat menyelesaikannya dengan tepat. Anda juga dapat mendukungnya dan memberikan semangat padanya, terutama sekali jika Gen X harus berhadapan dengan tugas baru yang menantang. Dalam pelaksanaannya pekerjaannya, selanjutnya Anda juga perlu memastikan mereka dapat merasakan work-life balance karena Gen X lebih suka dihargai atas produktifitas mereka bukan lamanya bekerja. Mereka akan senang dan termotivasi ketika di dalam penyelesaian pekerjaannya ia mendapat fleksibilitas waktu untuk me-time bagi dirinya dan keluarga.

Selanjutnya bagi tim Milenial, maka Anda perlu mensuperivisi secara dua arah. Milenial yang enerjik dan punya segudang gagasan-gagasan baru tidak suka jika ia hanya boleh mendengarkan dan melakukannya saja sesuai dengan apa yang diinstruksikan. Ketika mensuperivisi misalnya Anda bisa mulai dengan bertanya apa yang mereka ketahui tentang tugas tersebut. Biarkanlah mereka berpendapat untuk selanjutnya Anda bisa berikan penugasan secara to the point. Setelahnya berikan mereka kesempatan untuk bertanya dan memberikan ide atau gagasan mereka. Dan bila ide tersebut memang dapat diterapkan, kenapa tidak Anda berikan kesempatan padanya untuk mencoba mengaplikasikannya. Hindari juga instruksi yang terlalu bertele-tele dan mengawasinya secara ketat. Milenial menginginkan atasan yang hadir sebagai mentor dan coach (pelatih), bukannya seorang mandor yang hanya mengawasi.

Terakhir jika tim Anda juga sudah diwarnai oleh Gen Z, maka Anda perlu mensupervisi dengan mengajak mereka mengetahui tugas dari Anda sekaligus melibatkannya dalam berpikir kritis. Berikanlah supervisi dengan pendekatan berdiskusi dan biarkanlah tim Gen Z Anda berpendapat, bahkan Anda perlu menantangnya untuk mengkritisi tugas tersebut. Anda bisa lakukan dengan misalnya setelah Anda menjelaskan penugasan yang diberikan, ajak mereka untuk bertukar pikiran, apa kira-kira halangan yang bisa muncul ? Apakah cara yang lebih efisien dan efektif ? Adakah riset atau perkembangan teknologi terbaru terkait tugas tersebut ? Anda juga bahkan bisa tugaskan mereka untuk mencari informasi terbaru terkait tugas tersebut. Gen Z yang suka do it yourself akan merasa termotivasi ketika diberi kepercayaan tersebut dari Anda.

Nah tidak sulit bukan memimpin tim multi-generasi? Dengan pemahaman akan keunikan tiap generasi dan pendekatan yang tepat dalam mensupervisi mereka, membuat Anda lebih bijaksana menyikapi perbedaan yang ada dan membuat tim multigenerasi Anda merasa dikembangkan. Untuk mendapatkan pemahaman dan ketrampilan memimpin tim-multigenerasi secara lebih intens lagi, Anda dapat mengikuti pelatihan LEADING MULTI-GENERATIONAL TEAM dari Next Leader Consulting, yang tidak hanya berupa pembekalan materi secara teori, tetapi juga best-practice dan juga praktek langsung menjadi pemimpin tim-multigenerasi yang efektif.