Bagi para pemimpin yang memiliki team kerja, apakah Anda seorang supervisor, manajer, Division Head hingga pemimpin puncak atau seorang Shopfloor Leader yang membawahi para operator, dewasa ini istilah Coach menjadi tidak asing di telinga kita. Istilah yang dulunya kerap hanya digunakan di dunia olahraga ini, tetapi kini istilah Coach digunakan di dunia profesional dan didaulat sebagai profesi dan jabatan yang dekat dengan pengembangan diri dan kesuksesan kinerja.

Dan menariknya beberapa tahun terkahir ini, Coach tidak hanya berarti sebuah profesi bagi mereka yang ingin menjadi Career Coach, Business Coach ataupun Performance Coach tetapi juga mulai diterapkan di banyak organisasi untuk memfasilitasi para pemimpin dapat menjadi Coach bagi team kerjanya. Seperti ternyata dari pengalaman Next Leader Consulting mengembangkan para coach – ketika seorang pemimpin hadir sebagai Coach, mereka membawa sebuah warna baru yang berdampak pada hubungan yang lebih baik antara anak buah dan pemimpin. Dan hal ini berdampak pada komitmen team kerja yang lebih baik hingga peningkatan kinerja dari tiap individu yang telah dicoaching oleh atasannya.

Tidak sedikit juga para profesional yang menanyakan pada kami, bagaimana sih untuk dapat memulai menjadi Coach? Apakah perlu disertifikasi dulu para pemimpin di organisasi saya? Yes, itu betul ! Sertifikasi dan pembekalan melalui pelatihan hingga coaching oleh coach yang telah berpengalaman merupakan langkah yang perlu ditempuh untuk memampukan para pemimpin berperan sebagai Coach. Tetapi dari pengalaman Next Leader Consulting mengembangkan para Coach di organisasi, ada hal-hal yang tidak kalah penting yang perlu dipersiapkan setiap individu dan pemimpin untuk dapat benar-benar berperan sebagai Coach bagi team kerjanya. Apa saja hal penting yang perlu dipersiapkan, kuy simak persiapan bagi Coach berikut ini yang juga telah kami intisarikan sesuai standard ICF (International Coach Federation):

SIKAP UTAMA YANG PERLU DIKEMBANGKAN SEORANG COACH

Peran seorang Coach yang hadir untuk menggali dan memaksimalkan potensi anak buah, merupakan esensi dari kehadiran seorang Coach. Pendekatan coaching memfasilitsi esensi ini terwujud melalui hubungan yang terjalin secara dua arah antara atasan dan anak buah. Ketika hubungan yang terjadi baru bersifat instruksi kerja yang diikuti dengan pemantauan dan evaluasi oleh atasan boleh dikata hubungan yang ada baru bersifat satu arah.

Sebelum dapat berperan sebagai Coach tentunya hubungan satu arah yang ada perlu lebih dicairkan dan dibangun ke arah yang lebih interaktif. Pertanyaannya adalah bagaimana membuatnya menjadi dua arah? Jawabannya tidak sulit koq, semuanya hanya perlu dimulai oleh pemimpin atau atasannya! Anda perlu lebih terbuka dengan anak buah. Jika selama ini hanya Anda yang memberi instruksi, ambillah waktu untuk mulai anak buah yang dapat memberikan masukan dan saran, ijinkan juga ketika kemampuannya sudah mulai meningkat untuk anak buah mengutarakan analisanya atas situasi yang ada dan apa ide-ide untuk memperbaikinya.

Sikap keterbukaan ini menjadi begitu penting sehingga ini mejadi fondasi untk kedepannya pendekatan coaching dapat diterapkan di team kerja Anda. Setelah ada keterbukaan, Anda juga perlu mengembangkan sikap lain yang tidak kalah penting, yaitu:
1. Menghargai, terutama sekali menghargai masukan dan pendapat dari anak buah Anda.

2. Tidak menghakimi. Janganlah terlalu cepat menilai pendapat dan opini anak buah salah atau benar, baik atau buruk. Tetapi dengarkanlah lebih dulu dan biarkan mereka mengutarakannya secara terbuka pada Anda

3. Berempati. Tempatkanlah diri Anda di posisi anak buah ketika Anda mulai terbuka padanya. Ada kalanya anak buah masih ragu, takut dan sungkan dengan Anda. Itu wajar terjadi apalagi di awal-awal Anda membangun komunikasi dua arah dengannya. Terus lakukan pendekatan dua arah dan berempatilah dengan posisi mereka. Anda juga bisa berbicara secara informal dengan sikap kekeluargaan sehingga anak buah bisa lebih rileks.

KETRAMPILAN UTAMA UNTUK MENJADI SEORANG COACH

Yang membuat pendekatan coaching menjadi begitu istimewa adalah hadirnya seorang Coach membuat anak buah merasa bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri, atas prestasi kerja atau keberhasilan mereka hingga kesalahan mereka sendiri. Pendekatan dua arah antara coach dengan anak buah membuat team kerja merasa lebih terlibat dengan pekerjaan mereka, merasa lebih bertanggung jawab karena sejak awal apa yang dilakukannya adalah hasil dari ide-ide mereka, hasil dari pemikiran mereka sendiri. Sementara atasan hanyalah memfasilitasinya.

Untuk memfasilitasi keterlibatan anak buah hingga tumbuhnya rasa tanggung jawab secara internal, maka diperlukan sekali seorang Cocah memiliki ketrampilan-ketrampilan berikut ini, yang oleh International Coach Federation disebut sebagai Coach’s Competencies, yang kami intisarikan tiga ketrampilan utama berikut:

1. Mendengarkan Secara Aktif. (Active Listening). Atasan perlu siap untuk lebih banyak mendengarkan ketika komunikasi dengan anak buah mulai bergerak menjadi lebih interaktif. Tentunya ketrampilan mendengarkan perlu sekali terus diasah sehingga dapat mendengarkan secara aktif hingga di tingkat kedalaman tertentu yang dapat membaca pesan-pesan tersirat dari anak buah.

2. Bertanya yang membangkitkan kesadaran (Powerful Questioning). Coach yang efektif adalah ketika ia dapat membangkitkan kesadaran anak buah akan tanggung jawabnya, akan pemecahan suatu masalah hingga komitmen untuk menghasilkan kinerja terbaiknya. Semuanya itu membutuhkan ketrampilan untuk bertanya dan menggali yang mumpuni. Pertanyaan-pertanyaan yang powerful akan membawa anak buah berpikir begitu rupa sehingga diperoleh kesadaran baru akan situasi yang dihadapinya.

3. Membuat Rencana Aksi (Designing Action). Sebuah sesi coaching hanya akan menjadi seperti diskusi biasa ketika tidak diakhiri dengan pembuatan rencana aksi secara spesifik yang disepakati dengan anak buah. Ketrampilan membuat rencana aksi ini peru dilatih para pemimpin untuk secara piawai dapat menggalinya dari anak buah secara langsung sehingga timbul komitmen lebih dari anak buah. Komitmen mulai tumbuh karena anak buah merasa dilibatkan dalam membuat rencana aksi. “Ini bukan melulu instruksi dari atasan yang harus saya lakukan, tetapi saya sendirilah yang membuatnya sehingga ia memiliki motivasi internal untuk melakukannya.” Sebuah rencana aksi yang efektif juga disertai dengan komitmen tindakan yang disepakati dalam jangka waktu tertentu untuk segera dilakukan.

Itulah hal-hal penting yang bisa Anda mulai latih dalam diri Anda, agar benar-benar dapat hadir sebagai Coach bagi team kerja Anda. Next Leader Consulting yang telah berpengalaman mengembangkan para Coach merupakan partner yang tidak hanya membekali para calon coach di organisasi tetapi juga mendampingi dan memfasilitasi para Coach mengimplementasinya di tempat kerja riil mereka sesuai dengan tantangan dan kondisi yang berbeda-beda di tiap organisasi.