Gaya Kepemimpinan yang Efektif untuk Milenial dan Gen Z

Share it

Dunia kerja saat ini diisi oleh beberapa generasi dengan cara berkomunikasi, bekerja, dan memandang perkembangan karier yang berbeda. Di antara kelompok tersebut, milenial dan Gen Z menjadi bagian yang semakin besar dalam dunia kerja. Keduanya tidak hanya mencari pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga mempertimbangkan kesempatan belajar, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, lingkungan kerja, serta makna dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Hal tersebut terlihat dalam Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara. Survei tersebut menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial menempatkan pembelajaran dan pengembangan sebagai bagian penting dalam perjalanan karier mereka. Keduanya juga mengharapkan manajer memberikan arahan, dukungan, inspirasi, dan bimbingan, bukan hanya mengawasi pekerjaan sehari-hari.

Deloitte juga menemukan adanya kesenjangan antara harapan dan pengalaman mereka. Sebanyak 50% Gen Z dan 48% Milenial menginginkan manajer yang dapat mengajar dan membimbing mereka, tetapi hanya 36% Gen Z dan 32% Milenial yang merasa hal tersebut benar-benar mereka dapatkan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang efektif untuk generasi ini bukan berarti leader harus selalu mengikuti semua keinginan mereka. Yang lebih penting adalah bagaimana leader mampu memberikan arahan yang jelas, membangun komunikasi dua arah, memberikan ruang untuk berkembang, dan memahami kebutuhan anggota tim.

Lalu, gaya kepemimpinan seperti apa yang dapat diterapkan?

1. Jadilah Mentor, Bukan Hanya Atasan

Milenial dan Gen Z cenderung melihat perkembangan kemampuan sebagai bagian penting dari perjalanan karier. Karena itu, leader tidak cukup hanya memberikan tugas dan mengevaluasi hasilnya. Mereka juga membutuhkan arahan mengenai bagaimana mereka dapat berkembang.

Deloitte dalam 2025 Gen Z and Millennial Survey menemukan bahwa pembelajaran dan pengembangan termasuk faktor penting bagi kedua generasi dalam pekerjaan. Mereka juga menginginkan manajer yang dapat memberikan bimbingan dan mentoring.

Penerapan oleh Leader: Daripada hanya mengatakan, “Ini tugas kamu, selesaikan minggu ini,” leader dapat menjelaskan tujuan tugas, memberikan arahan awal, lalu melakukan check-in singkat untuk membahas perkembangan dan kendala. Dengan begitu, leader tetap mengarahkan tanpa mengambil alih pekerjaan anggota tim.

2. Berikan Arahan yang Jelas, tetapi Tetap Beri Ruang

Memberikan kebebasan bukan berarti membiarkan anggota tim bekerja tanpa arah. Milenial dan Gen Z tetap membutuhkan kejelasan mengenai target, prioritas, dan standar pekerjaan, tetapi mereka juga perlu ruang untuk menentukan cara mencapai tujuan tersebut.

Hal ini sejalan dengan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF). Dalam survei terhadap pemberi kerja secara global, leadership and social influence, resilience, flexibility and agility, serta empathy and active listening termasuk keterampilan inti yang banyak dianggap penting untuk dunia kerja.

Penerapan oleh Leader: Leader dapat menjelaskan apa yang harus dicapai, tetapi tidak selalu menentukan setiap langkah bagaimana cara mencapainya. Misalnya, target kampanye sudah ditetapkan, tetapi tim diberikan ruang untuk menentukan konsep, media, dan pendekatan yang menurut mereka paling efektif.

3. Bangun Komunikasi Dua Arah

Gaya kepemimpinan yang hanya mengandalkan instruksi dari atas ke bawah dapat membuat anggota tim enggan menyampaikan ide atau masalah. Leader perlu menciptakan komunikasi yang memungkinkan anggota tim berbicara, bertanya, dan memberikan masukan.

Deloitte menemukan bahwa 42% Gen Z dan 41% milenial menganggap manajer bertanggung jawab dalam menciptakan budaya kerja yang positif dan inklusif. Namun, hanya 22% Gen Z dan 21% milenial yang merasa hal tersebut benar-benar terjadi di tempat kerja mereka.

Penerapan oleh Leader: Dalam rapat, leader tidak hanya menyampaikan keputusan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada tim untuk menyampaikan pendapat. Pertanyaan sederhana seperti, “Menurut kalian, apa yang perlu diperbaiki?” dapat membuka ruang diskusi dan membuat anggota tim merasa pendapatnya dihargai.

4. Hubungkan Pekerjaan dengan Tujuan yang Lebih Besar

Bagi banyak milenial dan Gen Z, pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan gaji. Mereka juga ingin memahami apakah pekerjaan yang dilakukan memiliki tujuan dan memberikan dampak.

Survei Deloitte 2025 menunjukkan bahwa 89% Gen Z dan 92% milenial menganggap rasa memiliki tujuan (sense of purpose) penting bagi kepuasan dan kesejahteraan mereka dalam pekerjaan.

Penerapan oleh Leader: Leader tidak hanya memberikan target, tetapi menjelaskan mengapa pekerjaan tersebut penting. Misalnya, daripada hanya mengatakan “Kita harus mencapai target kepuasan pelanggan bulan ini,” leader dapat menjelaskan bahwa peningkatan kepuasan pelanggan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan dan keberlanjutan bisnis.

5. Berikan Umpan Balik secara Berkala

Umpan balik tidak harus menunggu evaluasi tahunan. Generasi yang sedang membangun kemampuan dan karier membutuhkan pemahaman mengenai apa yang sudah dilakukan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Deloitte 2025 menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial menginginkan lebih banyak dukungan, arahan, serta kesempatan untuk berkembang dari manajer mereka.

Penerapan oleh Leader: Leader dapat melakukan check-in singkat secara rutin untuk membahas progres, memberikan apresiasi atas hal yang sudah baik, dan menyampaikan satu atau dua hal yang perlu diperbaiki. Umpan balik yang spesifik dan diberikan secara konsisten akan lebih mudah digunakan sebagai bahan pengembangan dibandingkan evaluasi yang hanya dilakukan sesekali.

 

Kepemimpinan yang Efektif Tidak Berarti Memanjakan Generasi Muda

Memimpin milenial dan Gen Z bukan berarti leader harus selalu memberikan kebebasan tanpa batas atau menghindari tuntutan terhadap kinerja. Justru, kepemimpinan yang efektif membutuhkan keseimbangan antara arahan, kepercayaan, dukungan, dan akuntabilitas.

Deloitte menemukan bahwa Gen Z dan Milenial menginginkan manajer yang dapat memberikan bimbingan, dukungan, inspirasi, dan motivasi. Di sisi lain, mereka tetap memiliki kebutuhan terhadap perkembangan karier, pembelajaran, makna dalam pekerjaan, dan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.

Artinya, leader tidak perlu mengubah seluruh gaya kepemimpinannya hanya karena menghadapi generasi yang berbeda. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan anggota tim dan menyesuaikan cara memimpin tanpa menghilangkan standar kinerja.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang efektif untuk Milenial dan Gen Z bukan tentang memilih antara gaya kepemimpinan yang “tegas” atau “fleksibel”. Leader perlu tahu kapan harus mengarahkan, kapan harus mendengarkan, kapan memberikan kebebasan, dan kapan memberikan batasan.

Next Leader Consulting membantu organisasi mengembangkan kemampuan profesional dan pemimpin melalui program yang dirancang untuk menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang. Melalui pendekatan pengembangan kepemimpinan, performance coaching, HR assessment, dan solusi pembelajaran, kami membantu individu dan organisasi membangun kemampuan memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensi tim secara lebih efektif.

Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Pelatihan Kepemimpinan, Performance Coaching, HR Assessment, dan Gamification E-Learning. Silakan hubungi tim kami melalui Live Chat untuk mendapatkan rekomendasi program yang sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda.

Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Training Kepemimpinan, Coaching Kinerja, HR Assessment dan Gamification e-Learning. Silahkan dapat kontak team kami melalui Live Chat untuk merekomendasikan program yang tepat sesuai kebutuhan di organisasi Anda.

WeCreativez WhatsApp Support
Team Support Next Leader siap membantu menjawab pertanyaan Anda
Silahkan Tulis Pertanyaan Anda..