Cara Meningkatkan Leadership dalam Kehidupan Kita

Share it

Pada 2019, kasus Boeing 737 MAX menjadi salah satu contoh yang banyak dibahas mengenai bagaimana persoalan kepemimpinan, komunikasi, tekanan organisasi, dan pengambilan keputusan dapat saling berkaitan. Dalam investigasi terhadap Boeing 737 MAX, Komite Transportasi dan Infrastruktur DPR Amerika Serikat menemukan persoalan terkait tekanan produksi, komunikasi, pengawasan, serta adanya kekhawatiran yang disampaikan oleh sejumlah karyawan. Salah satu mantan manajer Boeing, Ed Pierson, juga telah menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi produksi dan masalah keselamatan kepada manajemen.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang siapa yang memiliki jabatan tertinggi. Kepemimpinan juga terlihat dari bagaimana seorang pemimpin mendengarkan informasi dari bawahannya, merespons kekhawatiran, mengambil keputusan ketika menghadapi tekanan, serta memastikan bahwa tujuan organisasi tidak membuat suara penting di dalam tim diabaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, situasinya mungkin tidak sebesar kasus Boeing. Namun, pola yang sama dapat ditemukan dalam berbagai lingkungan. Seorang anggota tim mungkin memilih diam ketika tidak setuju dengan keputusan atasannya. Seorang teman dalam tim kerja mungkin mengambil alih seluruh pekerjaan karena tidak percaya kepada anggota lainnya. Atau seseorang yang dipercaya memimpin sebuah proyek mungkin terlalu fokus menyelesaikan target sampai lupa memperhatikan kondisi orang-orang yang menjalankannya.

Karena itu, leadership sebenarnya bukan kemampuan yang baru diperlukan ketika seseorang menjadi manajer. Kemampuan memimpin dapat dilatih melalui cara seseorang mengelola dirinya sendiri, berkomunikasi dengan orang lain, mengambil keputusan, menghadapi konflik, dan bertanggung jawab terhadap hasil yang dikerjakan bersama.

Hal ini semakin relevan dengan perubahan dunia kerja. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menempatkan leadership and social influence, empathy and active listening, resilience, flexibility and agility, serta analytical thinking sebagai keterampilan penting dalam dunia kerja.

Berikut adalah 5 cara meningkatkan leadership dalam kehidupan kita yang Next Leader Consulting rekomendasikan untuk diterapkan dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari:

 

1. Mulai dari Kemampuan Memimpin Diri Sendiri

Kepemimpinan terhadap orang lain dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri. Seseorang yang mudah bereaksi ketika mendapat kritik, sulit menjaga komitmen, atau tidak mampu menentukan prioritas akan kesulitan memberikan arah yang konsisten kepada orang lain.

Self-leadership bukan berarti harus selalu mampu mengendalikan semua keadaan. Kemampuan ini lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang mengendalikan responsnya, memahami tanggung jawabnya, serta tetap dapat mengambil keputusan secara sadar ketika menghadapi tekanan.

Hal ini semakin penting dalam lingkungan kerja yang terus berubah. Deloitte dalam Global Human Capital Trends 2026 menemukan bahwa 85% pemimpin menganggap kemampuan organisasi dan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan perubahan secara cepat sebagai hal yang penting. Namun, hanya 7% yang mengatakan bahwa organisasi mereka sudah sangat baik dalam membantu tenaga kerja terus berkembang dan beradaptasi.

Contoh Penerapan: Ketika menerima kritik dari atasan, seseorang mungkin secara spontan ingin menjelaskan mengapa kesalahan tersebut terjadi atau mencari alasan dari kondisi di sekitarnya. Namun, seseorang yang sedang melatih self-leadership dapat mengambil waktu sejenak sebelum merespons dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa bagian dari masukan ini yang memang perlu saya perbaiki?” Misalnya, ketika mendapat masukan bahwa pekerjaannya sering terlambat, ia tidak langsung menyalahkan banyaknya pekerjaan, tetapi mengevaluasi bagaimana ia mengatur waktu, menentukan prioritas, dan mengomunikasikan kendala kepada atasannya.

 

2. Dengarkan Orang Lain Sebelum Memberikan Respons

Leadership bukan hanya kemampuan berbicara dan memberikan arahan. Kemampuan mendengarkan juga menentukan bagaimana seseorang membangun hubungan dan memahami situasi yang dihadapi orang lain.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memasukkan empathy and active listening sebagai salah satu keterampilan inti yang dibutuhkan di dunia kerja. Mendengarkan secara aktif bukan berarti selalu menyetujui pendapat orang lain. Tujuannya adalah memahami informasi dan perspektif sebelum menentukan respons.

Peran Leader: Leader perlu menyediakan ruang komunikasi dua arah. Dalam one-on-one meeting, misalnya, jangan seluruh waktu digunakan untuk memberikan instruksi atau mengevaluasi pekerjaan. Leader dapat menyisihkan waktu untuk bertanya, “Apa yang sedang menjadi kendala kamu?” atau “Apa yang menurut kamu perlu saya bantu?” Dengan cara tersebut, leader dapat mengetahui masalah lebih awal sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Gallup dalam laporan State of the Global Workplace 2025 juga melaporkan bahwa sekitar 70% variasi keterlibatan dalam tim berkaitan dengan manajer, menunjukkan bahwa perilaku pemimpin memiliki hubungan yang besar dengan pengalaman anggota tim di tempat kerja.

 

3. Berikan Arahan yang Jelas, Bukan Sekadar Perintah

Seorang pemimpin tidak harus berbicara dengan nada keras untuk menunjukkan ketegasan. Ketegasan justru dapat terlihat dari seberapa jelas ia memberikan arah.

Banyak masalah dalam pekerjaan terjadi bukan karena anggota tim tidak mau bekerja, tetapi karena mereka tidak memahami tujuan, prioritas, standar, atau batas waktu yang diharapkan. Karena itu, kemampuan memberikan arahan yang jelas merupakan bagian penting dari leadership.

Deloitte dalam Global Human Capital Trends 2025 menemukan bahwa 73% organisasi mengakui pentingnya melakukan perubahan terhadap peran manajer, tetapi hanya 7% yang mengatakan bahwa mereka telah membuat kemajuan besar dalam hal tersebut. Deloitte juga menemukan bahwa 36% manajer merasa belum cukup siap untuk menjalankan aspek pengelolaan orang dari peran mereka.

Contoh Penerapan: Daripada mengatakan, “Tolong selesaikan presentasi ini secepatnya,” leader dapat memberikan arahan yang lebih spesifik: “Presentasi ini akan digunakan untuk meeting dengan klien besok pukul 10.00. Fokuskan tiga slide pertama pada hasil proyek, gunakan data terbaru, dan kirimkan versi awal pukul 16.00 agar masih ada waktu untuk revisi.” Arahan tersebut memberikan konteks, tujuan, standar, dan batas waktu sehingga anggota tim tidak perlu menebak apa yang sebenarnya diharapkan.

 

4. Berani Mengambil Keputusan, tetapi Tetap Terbuka terhadap Masukan

Pemimpin perlu mampu mengambil keputusan, terutama ketika tim menghadapi situasi yang tidak memiliki jawaban sempurna. Namun, kemampuan mengambil keputusan tidak berarti seorang leader harus selalu memutuskan semuanya sendiri.

Leadership yang baik membutuhkan kemampuan mengetahui kapan harus mengambil keputusan, kapan perlu meminta masukan, dan kapan harus mengubah keputusan ketika muncul informasi baru.

Deloitte dalam Global Human Capital Trends 2025 menempatkan judgment atau kemampuan membuat keputusan dalam situasi yang kompleks sebagai kemampuan penting bagi peran manajer yang terus berkembang. Deloitte menjelaskan bahwa manajer semakin perlu membuat keputusan ketika informasi yang tersedia tidak lengkap dan tidak selalu terdapat jawaban yang jelas.

Contoh Penerapan: Seorang leader harus menentukan apakah sebuah proyek perlu dilanjutkan atau ditunda karena terdapat masalah teknis. Daripada langsung memutuskan berdasarkan pendapat pribadi, ia dapat meminta tim teknis menjelaskan risikonya, meminta tim operasional menjelaskan dampaknya terhadap pekerjaan, kemudian meminta Finance memberikan gambaran mengenai konsekuensi biayanya. Setelah informasi tersebut dikumpulkan, leader tetap mengambil keputusan, tetapi keputusan tersebut dibuat berdasarkan perspektif orang-orang yang memiliki informasi langsung mengenai masalah.

 

5. Jadikan Umpan Balik sebagai Kebiasaan

Seseorang akan sulit meningkatkan kemampuan leadership jika tidak mengetahui bagaimana perilakunya dipersepsikan oleh orang lain. Karena itu, umpan balik perlu menjadi bagian dari proses pengembangan, bukan hanya diberikan ketika seseorang melakukan kesalahan.

Gallup dalam laporan 2025 menunjukkan bahwa keterlibatan manajer sendiri mengalami penurunan dari 30% pada 2023 menjadi 22% pada 2025 secara global. Gallup juga melaporkan bahwa manajer memiliki pengaruh besar terhadap keterlibatan tim. Temuan ini memperkuat pentingnya pengembangan kemampuan manajer dan kualitas hubungan antara pemimpin dengan anggota tim.

Peran Leader: Leader perlu menjadikan umpan balik sebagai percakapan rutin, bukan hanya sebagai evaluasi tahunan. Umpan balik juga harus spesifik. Daripada mengatakan, “Kamu kurang proaktif,” leader dapat menjelaskan perilaku yang dimaksud, misalnya, “Dalam dua meeting terakhir, ketika ada kendala dari klien, kamu menunggu instruksi sebelum menghubungi tim terkait. Ke depan, saya ingin kamu langsung mengidentifikasi pihak yang perlu dilibatkan dan memberi saya informasi perkembangannya.” Dengan cara tersebut, anggota tim mengetahui perilaku apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana mereka dapat melakukannya.

 

Meningkatkan Leadership Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Meningkatkan leadership bukan hanya tentang mempelajari teori kepemimpinan atau menunggu sampai seseorang mendapatkan posisi manajerial. Kemampuan memimpin berkembang melalui kebiasaan sehari-hari, mulai dari bagaimana seseorang mengelola dirinya sendiri, mendengarkan orang lain, memberikan arahan yang jelas, mengambil keputusan, hingga menerima dan memberikan umpan balik.

Ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, seseorang dapat membangun kemampuan memimpin yang lebih kuat dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Kepemimpinan yang efektif bukan hanya membantu seseorang mencapai target, tetapi juga membantu orang lain berkembang dan bekerja bersama dengan lebih baik.

Next Leader Consulting membantu organisasi mengembangkan kemampuan profesional dan pemimpin melalui program yang dirancang untuk menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang. Melalui pendekatan pengembangan kepemimpinan, performance coaching, HR assessment, dan solusi pembelajaran, kami membantu individu dan organisasi membangun kemampuan memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensi tim secara lebih efektif.

Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Pelatihan Kepemimpinan, Performance Coaching, HR Assessment, dan Gamification E-Learning. Silakan hubungi tim kami melalui Live Chat untuk mendapatkan rekomendasi program yang sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda.

Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Training Kepemimpinan, Coaching Kinerja, HR Assessment dan Gamification e-Learning. Silahkan dapat kontak team kami melalui Live Chat untuk merekomendasikan program yang tepat sesuai kebutuhan di organisasi Anda.

WeCreativez WhatsApp Support
Team Support Next Leader siap membantu menjawab pertanyaan Anda
Silahkan Tulis Pertanyaan Anda..