Banyak pemimpin masih mengandalkan feedback sebagai cara utama untuk membantu anggota tim berkembang. Padahal, dalam praktik kepemimpinan modern, feedback saja sering kali tidak cukup. Anggota tim memang perlu mengetahui apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki, tetapi mereka juga membutuhkan arahan yang jelas mengenai langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Karena itu, semakin banyak organisasi dan pemimpin yang mulai melengkapi feedback dengan pendekatan feedforward yang berorientasi pada masa depan.
Pentingnya kemampuan memberikan masukan juga didukung oleh penelitian Zenger Folkman yang menemukan bahwa 92% responden percaya feedback yang disampaikan dengan tepat dapat membantu meningkatkan kinerja. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas komunikasi antara pemimpin dan anggota tim memiliki peran penting dalam proses pengembangan karyawan. Namun, dalam praktiknya, feedback saja sering kali belum cukup. Selain memahami apa yang perlu diperbaiki, anggota tim juga membutuhkan arahan yang jelas mengenai tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Karena itu, pemimpin perlu memahami perbedaan antara feedback dan feedforward. Feedback membantu seseorang belajar dari pengalaman yang telah terjadi, sedangkan feedforward membantu seseorang mempersiapkan tindakan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya. Ketika digunakan secara seimbang, keduanya dapat meningkatkan kualitas komunikasi, mempercepat proses belajar, serta mendorong pertumbuhan kinerja individu maupun tim.
Berikut beberapa hal yang perlu dipahami pemimpin mengenai feedback dan feedforward yang Next Leader Consulting rekomendasikan:
1. Jangan Hanya Membahas Kesalahan, Tunjukkan Arah Perbaikannya
Banyak pemimpin merasa tugasnya selesai setelah menunjukkan kesalahan atau kekurangan dalam pekerjaan anggota tim. Padahal, anggota tim sering kali sudah mengetahui bahwa hasil kerjanya belum optimal. Tantangan sebenarnya bukan memahami letak kesalahan, melainkan mengetahui langkah apa yang harus dilakukan agar hasil berikutnya menjadi lebih baik. Tanpa arahan yang jelas, feedback berisiko hanya menjadi evaluasi yang tidak menghasilkan perubahan. Oleh karena itu, feedback perlu dilengkapi dengan feedforward yang memberikan panduan konkret mengenai tindakan yang dapat dilakukan pada kesempatan berikutnya.
Contoh penerapan:
Seorang anggota tim baru saja melakukan presentasi kepada klien.
Contoh komunikasi:
Pemimpin (Feedback):
“Saya melihat presentasi yang kamu sampaikan tadi sudah cukup baik dan data yang digunakan juga relevan. Namun, pada bagian penutup, pesan utamanya belum terlalu kuat sehingga klien mungkin belum menangkap poin terpenting yang ingin disampaikan.”
Pemimpin (Feedforward):
“Untuk presentasi berikutnya, coba siapkan tiga poin utama yang ingin diingat klien sebelum sesi berakhir. Dengan begitu, pesan yang ingin kamu sampaikan akan lebih mudah dipahami dan diingat.”
2. Berhenti Fokus pada Masa Lalu, Mulai Siapkan Masa Depan.
Dalam banyak sesi evaluasi, sebagian besar waktu sering dihabiskan untuk membahas apa yang salah pada proyek atau pekerjaan sebelumnya. Padahal, hasil yang sudah terjadi tidak dapat diubah. Yang lebih penting adalah bagaimana anggota tim dapat menggunakan pengalaman tersebut untuk meningkatkan performa pada tugas berikutnya. Di sinilah feedforward membantu mengalihkan fokus dari penyesalan terhadap kesalahan menuju tindakan yang lebih produktif. Pendekatan ini membuat proses pengembangan menjadi lebih berorientasi pada solusi dibanding sekadar evaluasi.
Contoh penerapan:
Seorang karyawan menyerahkan laporan yang masih perlu revisi.
Contoh komunikasi:
Pemimpin (Feedback):
“Saya sudah meninjau laporan yang kamu kirim. Secara keseluruhan sudah cukup lengkap, tetapi masih ada beberapa data yang kurang akurat sehingga perlu diperbaiki sebelum digunakan untuk pengambilan keputusan.”
Pemimpin (Feedforward):
“Untuk laporan berikutnya, coba lakukan pengecekan silang dengan sumber data lain sebelum dikirim. Cara ini dapat membantu mengurangi kesalahan dan meningkatkan kualitas laporan yang kamu buat.”
3. Evaluasi Saja Tidak Cukup, Berikan Solusi yang Bisa Dijalankan
Tidak sulit bagi seorang pemimpin untuk mengatakan bahwa presentasi kurang meyakinkan, laporan kurang detail, atau koordinasi tim belum berjalan baik. Namun, masukan seperti itu sering kali membuat anggota tim memahami masalahnya tanpa mengetahui cara memperbaikinya. Agar feedback menghasilkan perubahan yang nyata, anggota tim membutuhkan arahan yang spesifik, realistis, dan dapat langsung diterapkan. Semakin jelas tindakan yang disarankan, semakin besar peluang mereka untuk meningkatkan performa pada pekerjaan berikutnya.
Contoh penerapan:
Seorang anggota tim terlihat pasif saat rapat.
Contoh komunikasi:
Pemimpin (Feedback):
“Saat rapat tadi, saya melihat kamu belum banyak menyampaikan pendapat atau masukan. Padahal, kamu termasuk orang yang cukup memahami proyek ini.”
Pemimpin (Feedforward):
“Untuk rapat berikutnya, coba siapkan beberapa ide atau rekomendasi sebelum diskusi dimulai. Dengan persiapan tersebut, kamu akan lebih percaya diri untuk berkontribusi dalam pembahasan.”
4. Ingin Tim Lebih Terbuka? Gunakan Pendekatan yang Lebih Konstruktif
Beberapa anggota tim langsung bersikap defensif ketika mendengar kalimat seperti “kamu kurang teliti”, “komunikasimu kurang baik”, atau “hasil kerjamu belum sesuai harapan”. Bukan karena mereka menolak masukan, tetapi karena fokus percakapan lebih banyak membahas kekurangan yang telah terjadi. Feedforward membantu mengubah arah diskusi menjadi lebih konstruktif dengan menekankan peluang perbaikan dan tindakan yang dapat dilakukan ke depan. Dengan pendekatan ini, anggota tim cenderung lebih terbuka menerima masukan dan lebih termotivasi untuk berkembang.
Contoh penerapan:
Seorang customer service mendapat keluhan terkait cara berkomunikasi dengan pelanggan.
Contoh komunikasi:
Pemimpin (Feedback):
“Saya menerima masukan dari pelanggan bahwa penjelasan yang kamu berikan masih kurang lengkap sehingga mereka harus bertanya kembali untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.”
Pemimpin (Feedforward):
“Ke depannya, coba tambahkan informasi mengenai langkah atau solusi yang tersedia sebelum pelanggan bertanya. Dengan begitu, pelanggan akan merasa lebih terbantu dan pengalaman layanan menjadi lebih baik.”
5. Pemimpin Hebat Tidak Memilih Salah Satu, Mereka Menggunakan Keduanya
Sebagian pemimpin hanya fokus memberikan evaluasi, sementara yang lain terlalu cepat memberikan solusi tanpa membahas akar masalahnya. Padahal, feedback dan feedforward memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi. Feedback membantu anggota tim memahami apa yang sudah berjalan baik maupun area yang masih perlu ditingkatkan. Sementara itu, feedforward membantu mereka menerjemahkan pembelajaran tersebut menjadi tindakan yang lebih efektif pada kesempatan berikutnya. Menggabungkan keduanya membuat proses pengembangan menjadi lebih lengkap, terarah, dan berdampak pada peningkatan kinerja.
Contoh penerapan:
Seorang manajer melakukan evaluasi setelah proyek selesai.
Contoh komunikasi:
Pemimpin (Feedback):
“Saya mengapresiasi kerja tim karena proyek ini berhasil diselesaikan tepat waktu dan target yang ditetapkan dapat tercapai. Namun, selama proyek berlangsung masih terdapat beberapa keterlambatan dalam pengiriman laporan sehingga proses koordinasi dan pengambilan keputusan menjadi kurang optimal.”
Pemimpin (Feedforward):
“Untuk proyek berikutnya, saya ingin setiap anggota tim mengirimkan laporan progres sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kita juga akan menggunakan format pelaporan yang lebih sederhana agar informasi dapat diterima lebih cepat dan koordinasi tim menjadi lebih efektif.”
Pada akhirnya, peran pemimpin bukan hanya menilai kinerja anggota tim, tetapi juga membantu mereka berkembang dari waktu ke waktu. Feedback membantu anggota tim memahami apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu ditingkatkan, sedangkan feedforward memberikan arah yang lebih jelas mengenai langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan.
Next Leader Consulting meyakini bahwa kemampuan memberikan feedback dan feedforward secara efektif merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki setiap pemimpin. Ketika keduanya digunakan secara seimbang, komunikasi tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga alat untuk membangun kepercayaan, meningkatkan motivasi, serta mendorong pertumbuhan individu dan tim secara berkelanjutan.
Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Training Kepemimpinan, Coaching Kinerja, HR Assessment dan Gamification e-Learning. Silahkan dapat kontak team kami melalui Live Chat untuk merekomendasikan program yang tepat sesuai kebutuhan di organisasi Anda.
Baca juga artikel terkait lainnya :



