Dunia bisnis yang semakin kompetitif di era industri 4.0 dimana angkatan kerja generasi Milenial yang sejak tahun 2020 lalu mendominasi dunia kerja hingga 75% menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis dan pemimpin organisasi. Dan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi ialah rendahnya tingkat work engagement  angkatan kerja generasi Milenial di berbagai belahan dunia (Akhavan Sarraf, Abzari, Nasr Isfahani & Fathi, 2017) termasuk juga generasi Milennial di Indonesia termasuk  di Indonesia (Mulyati & Kurniawan, 2018).

Menangani generasi Milenial agar betah bekerja sekaligus juga engaged di pekerjaannya memang memerlukan upaya tersendiri yang melibatkan pendekatan yang tepat. Karenanya kali ini Next Leader Consulting akan berbagi mengenai model desain kerja yang paling fit bagi tenaga kerja Milenial untuk organisasi Anda mendapatkan peningkatan work engagement level mereka.

Adapun work engagement model untuk angkatan kerja generasi Milenial ialah menggunakan kerangka Job Demands Resources (JD-R) Model.  Pertanyaannya lalu apa saja yang bisa dilakukan para pemimpin dan pengelola Sumber Daya Manusia untuk meningkatkan work engagement berdasarkan JD-R Model ini? Silahkan simak pemaparannya berikut ini:

1. TUNTUTAN PEKERJAAN YANG MENANTANG

Menurut JD-R Model, work engagement berpeluang terjadi ketika para karyawan Milenial dihadapkan pada tuntutan pekerjaan yang menantang sekaligus memiliki sumber daya yang memadai untuk berhasil mengatasi berbagai tantangan tersebut. Intisarinya, dalam JD-R Model sumber daya pekerjaan secara langsung berhubungan positif dengan work engagement dan tuntutan pekerjaan yang menantang dapat memperkuat hubungan positif tersebut.

Karenanya dapat menjadi refleksi bagi para pemimpin untuk melakukan mapping terhadap sumber daya yang dimiliki tim Milenialnya. Terlebih jika tim kerjanya adalah para high potential talents (karyawan yang memiliki pengembangan dan kinerja yang melampaui ekspektasi secara konsisten) maka perlu para pengelola SDM memiliki program-program untuk membuatkan pekerjaan yang menantang bagi generasi Milenial sehingga mereka dapat tetap memiliki engagement level yang tinggi.

2. PEKERJAAN YANG BERMAKNA (MEANINGFUL WORK)

Penelitian yang dilakukan oleh Nakamura & Otsuka (2012) menunjukkan bahwa perusahaan yang mengembangkan meaningful work dapat meraih manfaat dengan terjadinya peningkatan keterlibatan karyawan dalam pekerjaannya. Meaningful work disini adalah pekerjaan yang dialami sebagai sesuatu yang bermakna dan dipercaya memiliki dampak positif terhadap orang lain. Dan menurut Steger (2016) meaningful work ini berkorelasi dengan komitmen kerja yang kuat dan keterlibatan secara instensif dalam pekerjaan.

Lalu bagaimana secara nyata dapat menciptakan meaningful work pada angkatan kerja generasi Milenial? Para pemimpin dan pengelola SDM perlu membangun sebuah keadaan psikologis yang positif di mana para pekerja Milenial dapat merasa dirinya berkontribusi secara positif, penting, dan berharga untuk sebuah tujuan besar melalui eksekusi pekerjaan mereka. 

Selanjutnya Lewis & Yeoman (2016) menyatakan bahwa menciptakan tujuan yang lebih tinggi ini berhubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan nilai-nilai luhur (values) bagi seluruh pemangku kepentingan. Karena generasi Milenial menganggap bahwa memperjuangkan tujuan organisasi lebih penting dari sekedar tujuan finansial. Mereka melihat keberhasilan finansial sebagai konsekuensi logis dari tercapainya tujuan organisasi secara benar.

Dari JD-R Model ini, para pemimpin dan pengelola SDM perlu mereview kembali setiap job description  apakah sejalan dan selaras dengan aspirasi, cita-cita dan impian tim Milenial mereka yaitu untuk memastikan  tujuan yang lebih tinggi dari tim Milenial terakomodir.

3. JOB CRAFTING

Selanjutnya setelah tim Milenial Anda dapat merasakan tujuan yang lebih tinggi dalam bekerja, para pemimpin dan pengelola SDM perlu piawai untuk melakukan job crafting. Apakah Anda familiar dengan istilah job crafting? Praktisnya job crafting merupakan upaya individu dalam menyelaraskan pengalaman kerja dengan dorongan internal yang berdampak pada berkembangnya motivasi kerja yang lebih instrinsik. Job crafting ini akan menghadirkan kesempatan bagi generasi Milenial untuk mengintegrasikan dan mengorganisasikan pengalaman kerja mereka ke dalam sebuah kepuasan diri yang otentik.

Bagaimana agar secara nyata para pemimpin ataupun pengelola SDM dapat memfasilitasi job crafting bagi tim Milenial? Berdasarkan JD-R Model ini Anda dapat menyiasatinya dengan menciptakan pengalaman kerja generasi Milenial menjadi aktivitas yang memuaskan secara psikologis. Dinyatakan dalam pendekatan ini rekayasa pekerjaan dapat dijadikan peluang bagi generasi Milenial untuk mendayagunakan bakat dan preferensi kerja mereka secara lebih baik.

Tentunya untuk memfasilitasi hal ini para pemimpin dan pengelola SDM dapat berbicara dari hati ke hati apa saja aktivitas yang dapat memuaskan tim Milenial mereka secara psikologis. Termasuk apa sajakah bakat dan preferensi kerja yang dimiliki para Milenial di tempat Anda yang dapat dijadikan peluang untuk kemudian disesuaikan dalam pekerjaan mereka. Misalnya cara komunikasi di tim Anda disesuai dengan karakteristik Milenial dalam berpendapat, memberi masukan dan umpan balik. Aktivitas memuaskan secara psikolgis ini juga misalnya dapat berupa fasilitas kerja yang dapat diakses Milenial sekaligus memuaskan dahaga psikologis mereka untuk bekerja secara kolektif dan mendapatkan pengakuan sosial. 

Tim NEXT LEADER CONSULTING yang merupakan partner dalam memperlengkapi para pemimpin masa depan siap membekali para pemimpin dan pengelola SDM di organisasi Anda dalam membuatkan program yang selaras dengan JD-R Model untuk  memfasilitasi engagement level tim Milenial Anda tetap terjaga bahkan ditingkatkan. Selamat dan terus semangat berkolaborasi dengan tim Milenial Anda!