“Hati-hati lho sekarang kalau bicara, apalagi di depan umum begini, bisa-bisa jadi viral …ha..ha..ha..!” canda seorang karyawan di suatu rapat yang dihadisi rekan-rekan kerja satu Departemennya. Ya, kata-kata tadi walau hanya candaan di rapat, namun ada benarnya juga. Di Era Milenial yang notabene adalah jaman serba digital, suatu cuitan di Twitter atau foto yang diunggah ke Instagram dapat langsung diketahui semua orang bahkan jika Anda cukup populer, alih-alih bisa mendadak viral!

Di era digital ini, hampir semua bidang terkena dampak perubahan atau yang dewasa ini dikenal dengan istilah disruption (kekacauan, gangguan). Perubahan sudah tidak dapat dielakkan. Bagi Anda yang memiliki tim kerja, apalagi jika tim Anda banyak dari angkatan Milenial (saat ini berusia 20-37 tahun) pasti mulai merasakannya. Dahulu mungkin Anda belajar melalui buku, perlu waktu tenang atau sendiri ketika sedang mempelajari sesuatu. Namun anak muda jaman now – demikian sebutan gaulnya, belajar melalui gadget mereka, dengan menjelajah di dunia maya. Mereka pun senang sekali berdiskusi atau sekedar berkumpul dengan rekan-rekannya untuk saling mengutarakan pendapat, pemikiran mereka. Dan nyatanya memang melalui metode seperti itulah mereka menimba ilmu.

Ya, jaman memang sudah berubah, nah untuk Anda yang ingin berhasil dalam berkarier di Era Milenial ini, Anda perlu melakukan sesuatu yang berbeda sesuai dengan disruption yang sudah semakin membanjiri segala bidang:

1. Pelajari dan kuasai teknologi yang dapat menunjang bidang karier Anda

Apapun karier Anda, ketika Anda menjadi orang yang dengan cepat menguasai teknologi terbaru, ini akan menjadi aset Anda! Semua bidang, apakah Anda seorang akuntan, bagian keuangan, marketing, sales, mengurus legal, pengelola SDM, hingga bagian operation; Anda perlu menguasai dengan baik semua teknologi yang digunakan di pekerjaan Anda. Bahkan itu saja tidak cukup.  Saran saya, kuasai pula teknologi ter-update di luar pekerjaan Anda, yang selanjutnya dapat diterapkan di pekerjaan saat ini. Jika Anda memiliki tim kerja, maka kemampuan Anda mengadopsi teknologi untuk membantu proses kerja akan sangat membantu tim Anda.

Jika Anda adalah anggota tim, inisiasikan teknologi ter-update yang bisa jadi nilai plus Anda di mata atasan. Semua jenis proses pekerjaan dewasa ini lambat ataupun cepat akan menggunakan kecanggihan teknologi digital. Gunakan kreatifitas Anda dalam menginisiasi dari hal-hal sederhana namun terasa manfaatnya. Seperti menggunakan aplikasi dari smartphone untuk jajak pendapat di rapat. Penggunaan media digital ini juga sebisa mungkin tidak mengancam individu atau proses kerja yang ada, namun inisiasikan dengan cara Anda tunjukkan manfaatnya bagi kebaikan bersama. Nah, jika Anda menjadi pemain utama yang membawa dampak positif niscaya rekan-rekan sekerja Anda melihat Anda sebagai seorang yang bisa diandalkan.

2. Perluas jaringan sosial dan bangun citra diri Anda

Era digital ini membuat setiap orang bisa memiliki teman yang sebenarnya ia sendiri tidak kenal. Lho koq bisa? Ya, teman-teman di akun sosial Andalah orangnya! Berapa banyak Anda memiliki teman di Facebook atau Follower Instagram yang sebenarnya tidak Anda kenal?

Perubahan interaksi antar individu ini bisa jadi peluang untuk Anda memperluas jaringan sosial. Untuk melejitkan karier maka Anda perlu berteman sebanyak mungkin dengan mereka yang ada di organisasi Anda. Salah satunya adalah dengan bangun pertemanan melalui media sosial. Dengan jalinan awal di media sosial dapat menjadi pintu pembuka Anda semakin dikenali di organisas.

Dale Carnegie, salah satu dari pembicara dan penulis yang paling berpengaruh di dunia dalam bukunya “How To Wins Friends and Influence People” menyatakan “You can make more friends in two months by becoming interested in other people.” Dalam menjalin pertemanan Anda yang perlu terlebih dulu tertarik dengan rekan atau kenalan Anda. Bagilah informasi, ide-ide, hingga ilmu yang sekiranya dapat berguna bagi rekan-rekan Anda. Selanjutnya dalam pertemanan adalah penting sekali Anda membangun citra diri, yaitu Anda ingin dikenal sebagai siapa di mata rekan-rekan yang lain. Setelah Anda menetapkan citra diri yang ingin ditonjolkan, misalnya menjadi seorang supervisor yang suka memberikan umpan balik pada anak buah, maka ke depannya Anda perlu menampilkan citra diri Anda ini secara konsisten. So bangunlah citra diri yang memang sesuai dengan karakter Anda!

3. Aktif berkontribusi di komunitas

Salah satu disruption terbesar di Era Milenial ini adalah berbisnis tidak lagi melalui hubungan transaksional yang melibatkan penjual, jalur distibusi, baru kemudian sampai di tangan pembeli. Sekarang transaksi dapat dilakukan dengan mudah melalui komunitas yang langsung mempertemukan penjual dan pembeli. Tentunya dengan adanya beragam komunitas seperti saat ini dapat dijadikan peluang untuk membuat diri Anda semakin dapat berkontribusi di organisasi.

Bergabunglah dalam komunitas dan aktiflah berkontribusi di dalamnya. Bagi Anda para  Milenial rasanya bergabung di komunitas sudah menjadi hal yang kerap dilakukan. Namun Anda tidak cukup hanya bergabung, Anda harus mempunyai tujuan yang jelas dalam komunitas tersebut. Contohnya seorang rekan saya yang bekerja di salah satu bank swasta terbesar di Indonesia bergabung di komunitas fotografi. Selain untuk menjalin relasi yang lebih luas, dan menyalurkan hobby fotografi, ia dapat berkontribusi dengan berbagi ilmu mengenai cara mengenali kepribadian rekan kantor melalui membaca wajah dari hasil jepretan foto. Dengan adanya ilmu khusus yang dibagikan tersebut, mendadak ia jadi dikenali semua orang di komunitas. Bahkan rekan-rekan dari komunitas lain pun berdatangan ingin berkenalan. Para manajer pun banyak yang memanggilnya untuk meminta saran darinya seperti apa kepribadian tim kerjanya dari hasil jepretan fotonya.

Menarik bukan? Dan tentunya ketiga jurus jitu di atas perlu dibarengi dengan performa kerja yang maksimal sesuai dengan bidang pekerjaan Anda. Selamat meniti karier dan sukses!