Satu dari 5 tantangan terbesar yang dihadapi para pemimpin muda ialah imposter syndrome atau juga disebut sindrom penipu. Apakah itu imposter syndrome? Merupakan rasa takut berlebih yang dirasakan seseorang karena merasa dirinya tidak kompeten, merasa dirinya tidak secerdas, sehebat, sekreatif, atau sebaik seperti yang dilihat orang lain. Ia akan merasa setiap prestasi ataupun hasil kerjanya hanyalah karena faktor  kebetulan atau faktor eksternal seperti bantuan orang lain, lingkungan yang mendukung dan sebagainya. Disebut sebagai “sindrom penipu”, karena sindrom ini biasanya juga diikuti dengan rasa takut bahwa suatu saat dirinya yang tidak “sehebat” menurut orang lain tersebut akan terungkap sehingga ia akan dianggap sebagai penipu.

Apakah ciri-ciri imposter syndrome ini, dan bagaimanakah mengatasinya? Biasanya seorang pemimpin yang terbilang masih muda baik secara usia ataupun pengalaman kerja, atau seorang yang baru saja dipindahkan bagian menjadi lebih rawan terkena sindrom ini. Selain itu latar belakang serta kondisi tertentu dapat menjadi pemicu seorang menjadi lebih rentan dengan imposter syndrome ini, yaitu:

  • Lingkungan kerja / sehari-hari yang kompetitif
  • Kepribadian yang cenderung perfeksionis dan / ambisius (ambisi berlebihan)
  • Mendapatkan peran atau posisi baru di pekerjaan / bisnis
  • Pola asuh orang tua yang menekankan prestasi / pencapaian pada anak

Dari beberapa kondisi yang bisa menjadi pemicu tersebut, ada kabar gembira bahwa imposter syndrome ini bukanlah pertanda seseorang tidak sehat secara mental atau terkena gangguan jiwa, namun ini merupakan hal normal yang sangat dapat untuk diatasi!

Sebelum kita akan bahas bagaimana mengatasinya, alangkah baiknya kita pahami lebih lanjut tanda-tanda atau gejala dari imposter syndrome ini. Beberapa tanda-tanda utamanya ialah:

  • Mudah cemas ketika akan melakukan sesuatu hal
  • Ragu akan kemampuan diri sendiri
  • Menilai kemampuan diri secara kurang objektif, cenderung melihat sisi kurang / kelemahan diri
  • Tidak mudah puas diri, cepat frustasi dari hasil yang telah dilakukan
  • Menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri
  • Seringkali mengaitkan kesuksesan dengan faktor eksternal

Bila Anda pernah atau sedang merasakannya, janganlah berkecil hati! Faktanya dari penelitian yang pernah dilakukan di tahun 2019 pada 62 kasus imposter syndrome didapatkan 9 hingga 82% individu menyatakan memiliki gejala-gejala tersebut. Yang terpenting ialah Anda menyadari dan mengumpulkan segenap niat untuk mengatasinya. Silahkan simak berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:

1. Terimalah Perasaan Tersebut 

Jangan sangkali ataupun tutupi rasa cemas, ketakutan berlebihan hingga stress dan frustasi yang dirasakan. Ketika kita menyangkali atau berusaha menutupinya maka selamanya kita tidak akan mengatasinya tetapi hanya sedang menghindar dari masalah yang bisa jadi malah hanya akan semakin memperparah intensitasnya. Jadi yang perlu dilakukan ialah akui perasaan tersebut dan terimalah diri Anda apa adanya. Terimalah jika Anda selama ini cenderung perfeksionis dan bisa jadi penyebabnya di masa lalu seperti dibesarkan dalam situasi kompetitif atau memiliki orang tua yang menuntut prestasi ataupun cenderung bersikap otoriter. Di tahap pertama ini menerima perasaan juga berarti Anda perlu berdamai dengan diri Anda, yaitu maafkanlah situasi dan kondisi di masa lalu yang membuat Anda merasa seringkali tidak percaya diri atau meragukan kemampuan diri.

2. Curahkan Perasaan Pada Orang yang Tepat.

Pada kasus imposter syndrome dengan faktor penyebab yang kompleks, perlu untuk mencurahkan perasaan tidak nyamannya. Anda bisa melakukannya misalnya dengan menuliskan perasaan tersebut sehingga lebih lega. Bagi beberapa orang juga dapat mencurahkan perasaan pada orang yang tepat. Dianjurkan sebaiknya Anda mencurahkan pada orang yang tepat, yaitu yang dapat memberikan respon yang tepat dari curahan kegelisahan Anda selama ini. Diperlukan tidak hanya orang yang bisa dipercaya atau teman dekat; tetapi juga pastikan merupakan pribadi yang dapat menanggapinya dengan nasehat yang tepat.

3. Hargailah Diri Anda Sendiri

Setelah perasaan tersebut Anda curahkan dan bisa diterima menjadi bagian diri, disinilah Anda dapat memulai mengisi pikiran Anda dengan sesuatu yang baru untuk membangun kembali kepercayaan diri Anda. Utamanya di tahap ketiga ini ialah sadari bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna, tiada cacat atau luput dari kesalahan. Coba bayangkan orang yang Anda paling kagumi sekalipun tetap jika kita cermati lebih mendalam, pastilah kita akan menemui kekurangannya. So, mengapa kita masih mengkhawatirkan kelemahan kita? Karenanya jika saat ini Anda selalu teringat kelemahan dan kekurangan diri, ubahlah penyesalan Anda dengan rasa penghargaan pada diri. Setidaknya Anda selama ini telah berupaya yang terbaik, jika masih ada kekurangan itu merupakan hal yang sangat wajar.

Menghargai diri sendiri ini bisa dilakukan dengan menbucapkan terima kasih yang tulus untuk diri Anda sendiri, berikan kata-kata pujian pada diri sendiri secara objektif. Anda juga bisa membeli hadiah untuk diri sendiri dari setiap hal yang sudah Anda lakukan dengan baik, hingga melakukan hal yang selama ini ingin Anda lakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.

4. Kenali Kekuatan Diri

Setelah Anda dapat menghargai diri sendiri, langkah berikutnya Anda perlu mencari tahu dan menggali kekuatan diri secara objektif. Ingatlah setiap pencapaian dan hal-hal yang sudah dapat Anda lakukan dengan baik. Refleksikan kekuatan diri apa yang sebenarnya Anda miliki di balik setiap kejadian dan pencapaian tersebut, yang bisa jadi selama ini tidak Anda sadari. Penting disini untuk Anda tidak hanya terpaku pada prestasi yang besar ataupun pencapaian yang terlalu tinggi. Namun setiap hal yang nampak sederhana pun ketika Anda dapat melakukannya dengan baik, percayalah itu juga merupakan kelebihan atau kekuatan diri Anda. Anda juga dapat meminta umpan balik pada orang yang dapat melihat kekuatan diri Anda secara realistis, baik rekan yang tepat hingga tenaga professional yang dapat melihat bakat dan kemampuan Anda secara lebih terinci.

5. Kembangkan Rasa Berharga Dan Kepuasan Diri

Terakhir ketika kepercayaan diri Anda mulai tumbuh dengan telah menyadari setiap kekuatan diri yang Anda miliki, Anda bisa mulai membiasakan diri untuk mengembangkan rasa berharga diri. Rasa berharga ini perlu dilandasi kesadaran bahwa entah Anda saat ini berhasil atau belum berhasil Anda tetaplah pribadi yang berharga! Jangan meletakkan rasa berharga diri Anda pada sesuatu yang tidak pasti seperti angka pencapaian kinerja, pendapat atasan atau rekan kerja, penilaian kinerja. Sadari bahwa ketika semua itu belum diraih Anda tetap berharga! Anda tetap memiliki kemampuan sesuai yang sudah Anda sadari di langkah sebelumnya. Dan latih diri Anda untuk merasakan kepuasan diri yang sehat yaitu merasa cukup dan puas dengan diri Anda sendiri. Situasi dan kondisi dapat berubah, tapi ketika kita dapat merasa diri puas dan cukup, kita akan terhidnar dari rasa cemas, khawatir berlebihan. Lawan setiap perasaan tidak nyaman dengan meletakkan dasar rasa berharga dan kepuasan diri Anda pada rasa syukur pada diri sendiri, bukan pada kondisi eksternal yang dengan seketika dapat berubah!

Tumbuhkan perasaan ini setiap hari dan Anda juga bisa meminta bantuan professional yang siap mendampingi menjadi pribadi yang lebih baik. Tenaga psikolog dan konselor Next Leader Consulting yang telah terlatih siap membantu setiap profesional dan pemimpin menjadi pribadi yang semakin lebih baik setiap hari!