Cara Menjadi Pemimpin yang Disegani oleh Tim

Share it

Ketika Rosalind Brewer mengambil alih peran CEO di Walgreens Boots Alliance, ia tidak memilih untuk memimpin hanya dari balik meja di corner office (ruang sudut eksekutif). Brewer dikenal sering turun langsung ke toko-toko, berbicara dengan kasir, apoteker, dan pekerja lini depan untuk memahami tantangan nyata yang mereka hadapi. Ia tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menindaklanjuti masukan mereka untuk memperbaiki operasional perusahaan.

Cara Brewer memimpin menunjukkan bahwa rasa hormat atau respek dari sebuah tim tidak bisa dituntut melalui jabatan atau gelar. Rasa hormat itu harus diraih. Bagi profesional saat ini, terutama Gen Z dan Milenial yang sangat kritis terhadap otoritas tradisional, pemimpin yang disegani bukanlah mereka yang paling keras suaranya atau paling sering memberikan perintah, melainkan mereka yang menunjukkan kompetensi, keadilan, dan kepedulian yang nyata.

Hal ini sangat penting karena kepemimpinan yang hanya mengandalkan wewenang (authority) akan menghasilkan kepatuhan semu, bukan komitmen. Ketika seorang pemimpin disegani, tim akan memberikan usaha terbaik mereka secara sukarela, bukan karena takut dipecat. Rasa hormat ini dibangun dari konsistensi perilaku, bukan dari pidato motivasi sesaat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Work and Organizational Psychology melalui meta-analysis terhadap 185 studi menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pemimpin berperan penting dalam hubungan antara gaya kepemimpinan dan hasil kerja. Kepercayaan terhadap pemimpin juga berkaitan dengan kinerja tugas dan perilaku positif karyawan dalam organisasi.

Cara Menjadi Pemimpin yang Disegani oleh Tim

Lalu, bagaimana cara praktis membangun rasa hormat dan menjadi pemimpin yang benar-benar disegani oleh tim?

 

1. Tunjukkan Kompetensi, Jangan Sekadar Menjadi “Orang Baik”

Banyak pemimpin baru berpikir bahwa dengan bersikap ramah dan tidak pernah menegur, mereka akan disukai dan dihormati. Namun, rasa hormat yang sejati membutuhkan lebih dari sekadar sikap yang menyenangkan. Tim perlu tahu bahwa pemimpin mereka mengerti arah tujuan dan mampu memberikan panduan yang jelas saat situasi menjadi rumit.

Riset dari Zenger Folkman pada tahun 2023 mengenai karakteristik pemimpin luar biasa mengungkapkan bahwa menjadi “orang yang menyenangkan” (people person) saja tidak cukup. Pemimpin yang paling dihormati adalah mereka yang memiliki kompetensi teknis atau strategis yang baik, serta mampu menerjemahkan visi menjadi langkah-langkah yang jelas bagi timnya. Tim tidak akan respek pada pemimpin yang sering ragu-ragu atau tidak memahami bisnis yang ia pimpin.

Menunjukkan kompetensi bukan berarti Anda harus mengerjakan semuanya sendiri atau melakukan micromanage (mengatur segala hal secara detail dan mengekang). Ini berarti Anda tahu cara menghapus hambatan (blockers) bagi tim Anda, memberikan arahan yang strategis, dan mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data.

Penerapan oleh Leader: Pahami secara mendalam tantangan teknis atau operasional yang dihadapi tim Anda. Saat rapat, jangan hanya bertanya tentang status progress, tetapi tanyakan, “Apa hambatan terbesar yang kalian hadapi minggu ini, dan bagaimana saya bisa membantu menyelesaikannya?”

 

2. Berani Menunjukkan Kerentanan dan Mengakui Kesalahan

Vulnerability (kerentanan) dalam kepemimpinan sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, keberanian untuk mengakui ketidaktahuan atau kesalahan adalah salah satu cara tercepat untuk membangun rasa hormat. Gen Z dan Milenial sangat menghargai autentisitas; mereka lebih respek pada atasan yang manusiawi daripada atasan yang berpura-pura sempurna.

Gartner dalam riset Inclusive Leadership tahun 2024 menunjukkan bahwa pemimpin yang secara terbuka mengakui kesalahan mereka dan meminta masukan dari tim terbukti meningkatkan tingkat kepercayaan dan rasa hormat bawahan secara signifikan. Tindakan ini menciptakan psychological safety (rasa aman secara psikologis), di mana tim juga akan berani jujur dan berinovasi tanpa takut dihukum.

Mengakui kesalahan tidak menurunkan wibawa Anda. Justru, itu menunjukkan bahwa Anda memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan berorientasi pada pembelajaran, bukan pada pencitraan.

Penerapan oleh Leader: Jika Anda membuat keputusan yang ternyata salah atau memberikan instruksi yang membingungkan, akui segera di depan tim. Katakan, “Saya menyadari arahan saya kemarin kurang jelas dan membuat pekerjaan kalian terhambat. Maaf atas hal itu, mari kita perbaiki bersama.”

 

3. Berikan Apresiasi yang Spesifik dan Tulus

Memuji tim adalah hal yang mudah, tetapi memberikan pujian yang bermakna membutuhkan perhatian. Pemimpin yang disegani tidak hanya memberikan pujian generik seperti “Kerja bagus” atau good job. Mereka memperhatikan detail dan menghargai usaha spesifik yang dilakukan oleh anggota timnya.

O.C. Tanner dalam Employee Recognition Report 2024 menemukan bahwa pengakuan yang spesifik dan terhubung langsung dengan nilai-nilai perusahaan memiliki dampak yang jauh lebih besar dalam membangun rasa hormat dan loyalitas karyawan dibandingkan pengakuan yang bersifat umum atau hanya berbasis hadiah finansial. Karyawan ingin merasa bahwa pemimpin mereka benar-benar memperhatikan apa yang mereka kerjakan.

Memberikan apresiasi yang spesifik menunjukkan bahwa Anda hadir dan memperhatikan proses kerja mereka, bukan hanya hasil akhirnya. Ini membuat anggota tim merasa dihargai sebagai individu yang berkontribusi, bukan sekadar angka di dalam laporan.

Penerapan oleh Leader: Saat memberikan feedback atau pujian, sebutkan secara spesifik apa yang mereka lakukan. Contoh: “Saya sangat menghargai cara kamu menangani komplain klien tadi pagi. Kamu tetap tenang dan berhasil memberikan solusi yang membuat mereka puas. Itu adalah contoh komunikasi yang sangat baik.”

 

4. Tegakkan Standar yang Adil dan Konsisten

Tidak ada yang lebih cepat membunuh rasa hormat kepada seorang pemimpin daripada sikap pilih kasih atau inkonsistensi. Jika aturan hanya ditegakkan untuk bawahan tertentu sementara “anak emas” dibiarkan melanggar, kredibilitas pemimpin akan hancur seketika.

SHRM (Society for Human Resource Management) dalam Workplace Survey 2024 menyoroti bahwa persepsi terhadap keadilan (fairness) dan kesetaraan perlakuan adalah salah satu pendorong utama kepercayaan karyawan terhadap manajemen. Tim akan respek pada pemimpin yang berani menegur siapa pun yang melanggar kesepakatan, termasuk teman dekat atau bintang performa di tim tersebut.

Bersikap adil berarti menetapkan ekspektasi yang jelas di awal, menerapkan standar yang sama untuk semua orang, dan mengevaluasi kinerja berdasarkan fakta, bukan berdasarkan perasaan suka atau tidak suka secara personal.

Penerapan oleh Leader: Buat kesepakatan tim di awal proyek atau kuartal yang berisi standar kerja dan konsekuensi yang disepakati bersama. Terapkan aturan ini secara konsisten kepada semua anggota tim, tanpa kecuali, dan pastikan Anda juga mematuhi kesepakatan tersebut.

 

5. Menjadi Perisai, Bukan Sekadar Corong Tekanan

Funnel atau corong adalah saluran yang meneruskan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Banyak pemimpin buruk hanya bertindak sebagai corong yang meneruskan semua tekanan, kecemasan, dan tuntutan dari manajemen atas langsung kepada timnya tanpa filter. Pemimpin yang disegani bertindak sebagai perisai.

Laporan dari CIPD (Chartered Institute of Personnel and Development) tahun 2024 mengenai praktik manajemen lini depan menunjukkan bahwa manajer yang mampu memfilter tekanan eksternal dan melindungi fokus serta kesejahteraan (well-being) timnya memiliki tingkat retensi dan rasa hormat yang jauh lebih tinggi. Tim tidak butuh pemimpin yang hanya meneruskan stres; mereka butuh pemimpin yang mampu menerjemahkan tekanan tersebut menjadi prioritas yang jelas dan dapat dieksekusi.

Menjadi perisai bukan berarti menyembunyikan masalah dari tim. Ini berarti Anda melindungi mereka dari politik kantor yang tidak perlu, menyaring tuntutan yang tidak realistis dari atas, dan memberikan ruang bagi tim untuk bekerja dengan fokus dan tenang.

Penerapan oleh Leader: Ketika ada tuntutan mendadak atau perubahan strategi dari manajemen atas yang membebani tim, jangan langsung meneruskannya mentah-mentah. Analisis dulu dampaknya, negosiasikan tenggat waktu yang realistis dengan atasan Anda, baru kemudian sampaikan kepada tim dengan rencana kerja yang sudah disesuaikan agar mereka tidak merasa kewalahan.

 

Rasa Hormat adalah Hasil dari Tindakan, Bukan Tuntutan

Menjadi pemimpin yang disegani bukanlah tentang bagaimana Anda memposisikan diri di atas tim, melainkan bagaimana Anda berdiri bersama mereka. Rasa hormat tidak bisa dibeli dengan jabatan, tidak bisa dipaksa dengan ancaman, dan tidak bisa dibeli dengan bonus semata.

Pada akhirnya, rasa hormat adalah byproduct (hasil sampingan) dari kompetensi yang teruji, keadilan yang konsisten, dan empati yang tulus yang ditunjukkan berulang kali. Ketika tim melihat bahwa Anda berani mengakui kesalahan, melindungi mereka dari tekanan yang tidak perlu, dan secara tulus merayakan kemenangan mereka, mereka tidak hanya akan bekerja untuk Anda mereka akan berjuang bersama Anda.

Next Leader Consulting membantu organisasi mengembangkan kemampuan profesional dan pemimpin melalui program yang dirancang untuk menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang. Melalui pendekatan pengembangan kepemimpinan, performance coaching, HR assessment, dan solusi pembelajaran, kami membantu individu dan organisasi membangun kemampuan memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensi tim secara lebih efektif.

Next Leader Consulting fokus pada pengembangan pemimpin lintas generasi melalui program Training Kepemimpinan, Coaching Kinerja, HR Assessment dan Gamification e-Learning. Silahkan dapat kontak team kami melalui Live Chat untuk merekomendasikan program yang tepat sesuai kebutuhan di organisasi Anda.

WeCreativez WhatsApp Support
Team Support Next Leader siap membantu menjawab pertanyaan Anda
Silahkan Tulis Pertanyaan Anda..